IKLAN ATAS

Sri Sugiarti, S.Ip, Galakan Gerakan Belanja Di Warung Kampung

Sri Sugiarti, S.Ip
Redaksibekasi.com- Bekasi: Warung merupakan penggerak ekonomi masyarakat desa/kelurahan, semakin banyak warung maka hal itu menunjukkan semakin banyak perputaran uang terjadi," Kata Sri Sugiarti, S.Ip dalam sebuah acara diskusi Publik bertajuk. "UMKM dan Warung seperti dua wajah pada satu coint"

kabupaten  Bekasi, Berbelanja kebutuhan harian, mingguan atau bulanan keluarga, biasanya kita lakukan di hari libur. Tetapi, bijakkah kita bila membeli jauh2 ke pusat belanja "modern"? Coba tengok kebiasaan kita ini. Belanja di swalayan IndoMart atau AlfaMart, semua barang memang terpampang. Tapi, hampir tak ada interaksi kemanusiaan. Apalagi pertemanan dan persaudaraan. Bertahun-tahun kita menjadi pelanggan, yang bahkan dibuktikan dengan "kartu pelanggan", tapi sungguh penjualnya tetap tidak kita kenal. Bahkan pelayanpun kita tak tahu siapa, apa dan bagaimana kehidupan mereka. Komunikasi hanya dengan "pelayan", ingat bukan "penjual", Dan hanya seputar transaksi saja. Itupun sekarang diwakili dengan tulisan. Kata Sri Sugiarti, S.Ip

Lanjutnya, Sementara ketika kita membeli di warung tetangga, selain dekat, juga ada interaksi sosial kemasyarakatan yang akrab. Ada "obrolan", bukan sekedar transaksi barang yang menghilangkan nilai sosial kemanusiaan kita. Kita jadi tahu, kenal dan dekat dapat silaturahmi dengan masyarakat dan lingkungan. Komunikasi beginilah yang manusiawi. Yang menghubungkan antar orang, komunitas dan masyarakat. Bukan sekedar barang, angka penjualan dan plastik kemasan.

"Membeli di warung tetangga akan menumbuhkan kekuatan ekonomi keluarga itu. Kita jadi berperan bagi tegaknya ekonomi dan ketahanan sebuah keluarga. Suami, istri dan anak2nya. Dan mereka, berperan sebagai penjual,"paparnya. 

Lanjutnya, Waroeng atau warung disetiap desa dan kelurahan bisa mencapai angka paling sedikit 100 buah, bahkan di desa yang padat penduduknya lebih dari jumlah itu.

"Masyarakat kita dewasa ini lebih cenderung belanja di super market yang nota bene perputaran uangnya berlangsung pada satu perusahaan besar, dimana pengaruh ekonominya tidak mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat. Kecenderungan kapitalisasi pada perusahaan besar ini tentu sangat merugikan pada masyarakat kecil dan UMKM khususnya yang ada di desa dan kelurahan," terangnya

Dikatakan Sri Sugiarti, S.Ip, sebenarnya  UMKM dan Warung seperti dua wajah pada satu coint, satu pemasok dan satu penjual. Jika sinergisitas UMKM dengan Warung berjalan efektif, maka pertumbuhan ekonomi masyarakat d satu Desa dan Kelurahan akan bertumbuh secara positif. 

"Sekarang bagaimana elemen pemerintahan Desa dan Kecamatan berani memulai untuk melakukan gerakan BELANJA DI WARUNG di setiap Desa dan Kelurahan agar kehidupan perekonomian masyarakat yang bertujuan untuk mengentaskan kemiskinan di setiap Desa dan Kelurahan benar benar terwujud,"pungkasnya."(*)

Reporter : red 
Editor : Luk 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.