Terbaru

6/recent/ticker-posts

Warga Lingga Nilai, Bupati H. Alias Wello 'Inkonsistensi', Pemerintah Pusat Harus Ambil Sikap

Acara "Open House" 
Redaksibekasi.com- Lingga Kepri: Bupati Lingga H. Alias Wello dinilai sebagian warga telah melanggar imbauan dan aturan yang dibuatnya sendiri, Kenapa tidak, H. Alias Wello dengan tenang dan nyamannya mengadakan gelar acara "Open House" salam silaturrahmi usai sholat I'ed, 1441 H, Minggu (24/5/2020) di kediamannya Gedung Daerah Dabo Singkep.

Terpantau dalam gambar yang beredar luas di masyarakat, Acara tersebut tampak dihadiri para pejabat-pejabat tinggi dan para staf di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Lingga serta para pengusaha yang ada di Lingga, hal ini jelas merupakan bukan contoh yang baik bagi masyarakat.

"Tindakan dan sikap Bupati Lingga ini Diduga sangat arogan "Aturan mengenai pencegahan penyebaran covid19 yang sudah di buat oleh pemerintah adalah buat kemashlahatan bersama, maka oleh sebab itu harus di ta'ati secara bersama-sama pula, baik oleh masyarakat maupun oleh aparat dan pejabat, termasuk bupati sendiri," Apa mungkin karena dia pejabat, Yah..Pemerintah pusat harus ambil sikap," Kata Al-gazali salah satu tokoh masyarakat Dabo Singkep angkat bicara.

"Masyarakat melihat apa yg nampak saja, bahwa ada open house, artinya mengumpulkan ramai orang, ini yg menimbulkan pertanyaan di masyarakat. Dan hal ini tentu sangat kita sayangkan, karena dilakukan oleh pemerintah daerah kita" tambah Al-gazali dengan nada sedih.

Diketahui, Dari foto tampak jelas, orang-orang yang hadir lebih dari setangahnya adalah pejabat di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Lingga, tampak orang-orang tersebut sama sekali tidak menerapkan physical distancing dan social distancing, banyak dari tamu juga tidak menggunakan masker, hal ini jelas melanggar protokol kesehatan

Apakah kebijakan aturan untuk penanganan darurat bencana nasional Corona Viruses Disease (Covid-19) juga untuk dipatuhi bupati. Atau sebaliknya, bupati bebas melanggar aturan karena ia yang membuatnya.

Tidak seberapa pentingkah aturan itu sehingga bisa seenaknya dilanggar dan tidak perlu dipatuhi oleh bupati. Atau apakah karena seseorang itu menjabat sebagai bupati sehingga boleh mengabaikan ketentuan aturan social distancing atau psychal distancing dalam penanganan penecegahan Covid-19 ini.

Jika masyarakat kesal melihat sikap bupati yang diduga terbilang arogan terhadap aturan yang dibuatnya sendiri tersebut, sangatlah wajar, Inkonsistensi bupati inilah yang kemudian dipertanyakan oleh masyarakat.

Lantas dengan adanya teladan perilaku Bupati Lingga  yang tidak patuhi ketentuan jaga jarak dalam kegiatan sosial, tidak boleh mengumpulkan orang banyak sesuai protokol pencegahan wabah Covid-19 ini. Bolehkan masyarakat melanggar dan mengabaikan aturan social distancing, psychal distancing, seperti dilakukan bupati?

Semua kebijakan pelarangan tersebut bertendensi untuk keselamatan kesehatan warga masyarakat di tengah merebaknya pandemi virus corona, yang kemudian juga diamini dan dipatuhi masyarakat, namun seorang yang dianggap pemimpin seolah justru sengaja melanggar aturan tersebut, ironis.

Diketahui sebelumnya, Bupati Lingga  telah mengeluarkan surat edaran yang berbunyi "kegiatan keramaian pada tempat hiburan, (Warnet, Gelanggang Permainan, Bilyard Bioskop, Diskotik/PUB, KTV dan sejenisnya) dan Kegiatan lainnya yang melibatkan massa (Unjuk Rasa, Pertemuan Sosial, Politik, Budaya, Agama dalam bentuk seminar Lokaka werya, Serasehan, Konser Musik, Pekanraya, Festival, Bazar, Pameran, Pasar Malam, Resepsi Keluarga, Kegiatan Olahraga, Kesenian, Pawai, dan Karnaval) agar ditiadakan atau ditunda."(*)

Reporter: Suarman
Editor: Luk
Baca Juga