Terbaru

6/recent/ticker-posts

Komnas Perlindungan Anak: 3 Anggota GengRAPE Di Simalungun Terancam Kebiri Dan Pidana 20 Tahun

Komnas Perlindungan Anak memberikan apresiasi dan penghargaan setingi-tingginya kepada Kapolres Simalungun dan jajaran Kasatreskrimum
Redaksibekasi.com- Jakarta: Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait dan Bupati Simalungun Dr. JR. Saragih memberikan atensi terhadap dugaan gengRAPE melakukan perkosaan bersama-sama yang diduga dilakukan 3 orang yakni Tomy Purba (45), Kentung Damanik (46) dan Lelek (22) warga Desa Sorba Bandar Nagori Bah Tonang, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara terhadap TBD (11) warga Bah Tonang secara berulang di tempat berbeda (08/06/2020).

Ironinya selain dilakukan di tepi Sungai Bahbolon dan Bahlukang Luan juga dilakukan dihadapan ibu  korban yang memiliki kelainan mental mengakibat korban saat ini  menderita trauma berkepanjangan dan atas perbuatan tersangka Tomy Purba, Kentung Damanik dan Lelek terancam pidana pernjara minimal 10 tahun dan dapat pula diancam dengan pidana penjara maksimal 20 tahun bahkan hukuman seumur hidup.

Bersesuaian dengan UU RI No. 17 Tahun 2016 tentang Penerapan Perpu No: 01 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU RI Nomor:  23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, junto UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI Nomor: 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dan mengingat perbuatan pelaku masuk dalam kategori kejahata luar biasa maka pelaku dapat juga terancam denga hukuman seumur hidup dan jika pelaku terbukti melakukan  perbuatannya secara terencana dan berulang-ulang maka ketiga pelaku juga dapat diancam dengan hukuman tambahan berupa KASTRASI yakni kebiri melalui suntik kimia.

Atas peristiwa ini Komnas Perlindungan Anak memberikan apreasi dan penghargaan setingi-tingginya kepada Kapolres Simalungun dan jajaran Kasatreskrimum atas kerja kerasnya telah menangkap dan menahan terduga pelaku Tomy Purba dan kedua rekannya serta Komnas Perlindungan Anak berharap Polres Simalungun akan menjerat pelaku dengan menggunakan sangkaannya dan dakwaannya dengan kedua Undang-undang tersebut.

Saya yakin betul bagi Kapolres Simalungun yang baru saja medapat penghargaan dari Komnas Perlindungan Anak yang diserahkan langsung oleh Kapolda Sumatera Utara tidak ada kata damai untuk kasus kejahatan terhadap anak, dimata beliau anak harus dilindungi karena anak adalah titipan Tuhan dan anak mempunyai hak hidup dan rasa nyaman, oleh sebab itu bagi beliau tidak ada kata konpromi atas kejahatan terhadap anak jika dua alat bukti yang telah terpenuhi, demikian disampaikan Arist Merdeka Sirait Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak kepada sejumlah media online, cetak, radio dan TV melalui siaran persnya di Jakarta, Senin 08 Juni 2020.

Sementara itu atas peristiwa yang memaluhkan ini Bupati Simalungun DR. JR. Saragih meminta dan mengajak Komnas Perlindungan Anak dan lembaga perlindungan anak lainnya untuk bersama-sama melakukan kampanye publik untuk menggerakkan masyarakat Simalungun membangun gerakan Memutus Mata Rantai Kekerasan Seksual terhadap anak berbasis Desa dan Kampung, sudah saat nya masing-masing Desa dan Kampung  di Simalungun mempunyai gerakan perlindungan anak terpadu dengan melibatkan peran serta masyarakat, Karang Taruna, Kepala Lorong,  Kepala Desa, pemimpin umat serta komitmen saling memperhatikan dan saling peduli apa yang terjadi dilingkungan sosialnya, demikian disampaikan Bupati Simalungun kepada Arist Merdeka Sirait.

Diharapkan dengan langkah tegas Polres Simalungun atas peristiwa  gengRAPE ini menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat dan  menjadikan efek jera sehingga peristiwa serupa tidak terjadi.

Untuk memulihkan tingkat trauma korban Komnas Perlindungan Anak bersama Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kabupaten Simalungun  dan mengajak Dinas PPPA Simalungun segera membentuk Tim Litigasi dan pemulihan korban guna memberikan dampingan psikologis korban dan keluarganya.

Terbongkarnya perbuatan bejat yang dilakukan ke 3 terduga pelaku berawal ketika korban memceritakan kasusnya kepada sahabatnya NS (12) bahwa ia telah menjadi budak seks ke 3 pelaku bahkan perbuatan pelaku yang menjijikkan itu dilakukan secara berulang dihadapan ibunya, mendengar peristiwa itu kemudian sahabat korban NS (12) spontan bercampur sedih menceritakan kepada tantenya MS dan kemudian MS pada 26 Mei 2029 bersama pegiat media melaporkan kejadian itu kepada Polsek Raya Kahean dan kemudian diteruskan ke Unit PPA Polres Simangun untuk di tindak lanjuti."(*)

Reporter: Erizal
Editor: Luk
Baca Juga